Search

Mari Bercengkrama

Monolog of Annisa Fauziyyah

Chaos – Sketsa Kepedihan

cropped-cropped-wallpaper.jpg

Kamu masih terjaga lewat tengah malam, menonton televisi dengan tatapan kosong. Menertawakan komedi menyedihkan yang kamu ketawai sendiri. Penuh sadar, kamu masih menggenggam hp dengan wallpaper  seorang gadis yang sedang tersenyum dengan rambut hitam terurai. Ia masih tetap saja cantik, seperti biasa.

Kamu ragu, pesan singkat yang ditulis mulai dua jam lalu belum dikirimkan, hanya sekedar ingin mengetahui kabar, tidak lebih. Kamu sudah putus asa, kamu bahkan tidak berharap mengetahui apa yang dilakukan gadismu pada lewat tengah malam kali ini. Apakah gadis yang pernah menjadi milikmu itu sedang terlelap manis, masih membaca novel Sherlock Holmes favoritnya atau bahkan sedang bercumbu dengan kekasih barunya. Kamu ingat betul, malam sebelumnya ia muncul di beranda facebookmu dengan seorang lelaki, keduanya memamerkan cincin di tangannya sembari saling menatap dan tersenyum bahagia.

04.00

Televisi 32 inchi di kamarmu kini telah berganti dengan acara ocehan lelaki yang menyerukan bumi bulat. Kamu mencoba rebah ditempat tidur. Kamu semakin teringat bagaimana setelah ini biasanya akan ada yang membangunkanmu dengan kecupan. Kamu ingat bagaimana gadis kesayanganmu melumat bibirmu dan kemudian membuatkan sarapan telor setengah matang sebelum kamu berangkat bekerja.

Kenangan tak  ubahnya hantu yang bisa menjelma menjadi apapun dan siapapun. Bahkan bisa seperti lelaki bajingan yang selalu ada dimanapun, kenangan ada dimanapun kamu berada. Ia tidak mudah lenyap seperti bekas noda sisa bercinta yang bisa dicuci dengan Rinso sekali bilas yang iklannya selalu menghiasi layar televisi.

Kenangan tidak bisa begitu saja kamu tinggalkan. Kamu sadar, kenangan tak ubahnya semesta, semuanya telah dirancang dengan sempurna, segala partikel telah disusun sedemikian rupa hingga membentuk pola.

05.00

Sarung bantal yang kamu tiduri belum sempat kamu cuci. Bau gadismu masih menempel disana. Kamu sedang berusaha jujur, kamu tidak ingin munafik. Kamu merindukannya, kamu merindukan caranya bercerita tentang cerita horor di kantor tempatnya bekerja, kamu rindu pelukan dan usapan lembut tangannya di rambutmu setelah kamu lelah bekerja. Kamu rindu cara ia bersenandung lagu Andrea Bocelli dengan mata berbinar-binar.

Pada akhirnya kamu ingat suatu hal, kamu memenangkan lotre. Ah.. kamu begit naif, doa yang sering kamu rapalkan serupa lotre. Jika menang akan terkabul. Ah ya, kamu ingat, kamu pernah mendoakan gadismu menemukan lelaki serupa pangeran di negri dongeng dan kini lotremu dimenangkan.

06.00

Istrimu mengirimkan pesan singkat untuk segera bersiap sholat, hari ini HARI RAYA IDUL FITRI. Kamu menangis, kamu menangisi kemenangan lotremu – gadismu menemukan pangerannya dan kamu dihadapkan kenyataan.

“Setelah ini kamu harus bergegas bekerja. Kamu memerlukan uang untuk biaya istrimu dikampung yang akan melahirkan”

Advertisements

3 pagi

Pukul 3 pagi.

sepertinya seseorang berdoa kesedihan memperlakukanku dengan baik.

dia berkata “aku selalu medoakan kebaikanmu”

“kamu tidak harus menderita,”katanya tempo hari.

Jika sudah bosan dengan doamu,
Pukul 3 pagi, kamu boleh datang, dan akan aku ajarkan  kembali bagaimana menyingkirkan doamu yang terlampau membosankan.

Meskipun kita tahu, doamu tidak mengubah apapun.

Tidak akan mengubah perpisahan.
Tidak akan memberikan kesempatan.

Kamu terlalu cepat pergi,
Secepat keretamu yang melaju menuju horizon.

Bahkan, kamu belum tuntas mengajarkanku bagaimana menggoreng telur mata sapi dengan kuning yang sempurna, bagaimana membuat kopi dengan gula tanpa rasa manis.

Perpisahan tidak dirancang sempurna. Ada sakit dan kepedihan setelahnya.
Ada janji yang kerap dilontarkan dan berulangkali diingkari.

Setelahnya hanya ada perkara dilupakan dan melupakan, bukan merelakan.

 


DSC02279

Hello Februari !

image

Langsung saja, setelah berdiskusi singkat dengan http://nyalagelap.wordpress.com aku memutuskan untuk belajar menulis dari awal. Otak sudah tumpul dan nalar semakin ngawur. Dia berkata tulisanku semakin nglantur dan tidak menarik. Bagaimana tidak ? 1 hari ada 24 jam, 9 jam harus bekerja. 6 jam harus tidur. Tidak ada yang tersisa bukan? Apa lagi untuk menghayal dan menikmati hidup bersama beberapa buku yang aku telantarkan di hari” kerja. Oh ya, beberapa saat kedepan aku akan melakukan renovasi. Mari bercengkrama akan berisi cerita saat berlibur maupun resesnsi buku yang aku baca.
Sungguh, aku sudah bebal.. Tidak ada sajak mesra yang bisa aku buat lagi !

Sampai jumpa di post selanjutnya 😉

Sudah aku bilang ini Monolog !

 

senjalagi

when was the last time you disappeared
when was the last time you disappeared?
from the life in the concrete jungles call cities,
from everyday conversations that have long repetitive,
and the rest of those regular scenes?

when was the last time you really had enough time to sense any of these?
the scent of the beach
the morning dew under your bare feet
the sunset hues
the orchestration of the nature?

when was the last time you floated across the line, over those walls,
and lost your sense of time?

why not now?

why not now?

why not now?

why not now?

Jpeg

Nada dan lirik when was the last time you disappeared, terus saja memojokkan aku. Aku harus segera pergi, barangkali lari sejenak dari rutinitas memuakkan. Meskipun pada akhirnya harus kembali dan berangkatlah menju tebing….

Cahaya bulan, tebing, suara ombak ..

Tidur dengan bantal botol aqua, menatap langit dan bintang dengan backsound ombak pada karang sudah cukup membuat tenang..

Here we go.. 🙂

Photo by Adam

CHAOS

*Penggalan cerita yang belum selesai ini harusnya dapat terbit saat ulang tahunmu yang ke 25, metamorfosis yang kita lakoni baik dari rupa yang semakin menua, sikap dan pola pikir.

Sayang sekali, aku tidak bisa menulis dengan deskriptif, detail dan membuatmu mengikuti alur cerita. Aku ingin membuatmu sedikit berfikir dan menerka, akan tetapi kamu masih enggan mengerti.

#Kita saling mengenal  melalui pertemuan yang tidak terduga, kita banyak belajar dari pertemuan sederhana. Hingga pada suatu malam, kita mulai berkisah mengenai ketidakteraturan kehidupan yang membentuk pola tertentu, kamu menawarkanku ketenangan. Kamu selalu memberikan ruang untuk kita melihat kereta, bintang dan seisi kota. Selanjutnya kita selalu bertemu dengan semakin banyak cerita untuk hidup kita sendiri.  Kita sempat dan masih berbagi cerita mengenai masa depan, harapan-harapan indah yang belum tentu dapat kita wujudkan. Berharap masih terdapat sedikit ruang di bumi yang sudah sesak untuk sejarah kecil kita. Kamu bahagia bersamaku, senyum ringan mengambang di wajah manismu dengan mata sayu sempurna.

#Aku  mempertanyakan dimanakah letakku yang pernah kau ucapkan bahwa aku ada disalah satu sudut hatimu. Namun, kamu tidak pernah mempermasalahkan, kamu seperti ragu membiarkanku mengisi ingatan dalam pikiranmu. Aku yakin, kamu bisa merasakanku, hanya saja kamu diam, yang menurutku akan hanya bertumbuh menjadi sampah busuk. Aku membiarkanku mengikutimu dalam diamu, yang semakin membuatku tersadar, kata hanyalah ucapan yang bisa berlalu begitu saja, sedangkan kita tidak bisa berlalu begitu saja.

#Kemudian, ketika pada waktunya kamu harus meninggalkan kota ini, kota yang membahagiakanmu, kita harus berhadapan dengan kebisuan, kita harus bertahan hidup untuk mengusir kebosanan. Yang harus kulakukan adalah kembali pada realita bahwa aku harus belajar hidup tanpamu, belajar menghidupkanmu meskipun jarak selalu memberikan kesunyian yang nyata. Cerita yang pernah kita lontarkan harus tetap hidup hingga suatu waktu hanya mati yang merenggutmu dariku.

#Nampaknya kita harus berusaha keras untuk tidak menjadi egois, berusaha keras bertransformasi menjadi hal yang berguna bagi masing-masing kita. Mungkin ini kesempatan kita membukatikan bahwasanya perjalanan dalam proses yang disebut cinta memerlukan kepercayaan dan keyakinan.

Aku harus berterimakasih pada semesta, aku disempatkan mengenalmu untuk mendewasakanku dan menjadikanmu kekasih.

GILA

gila-copy

Tulisan ini adalah tulisan ferryeka, kekasihku. Aku copy dan paste di blog maribercengkrama.Kenapa? karena aku belum mampu menuliskan hal sepeti ini. Kalian sedang bosan dengan rutinitas? sedang muak dengan targer bulanan? atau bahkan geram dengan atasan atau rekan kerja yang culas? Tidak ada salahnya selonjoran dan nikmati batang rokok kalian. happy reading !

Hey kamu yang disebutl gila. dibawah pohon kamu duduk bertelanjang. Kadang kamu terlentang dipinggiran jalan tanpa kain membalut tubuhmu. Kami tidak peduli dengan penis mu yang tertawa. mungkinkah kamu menikmati kebebasanmu. apakah kamu masih manusia, bahkan manusia sesamamu tidak memanusiakanmu. Oh.. mungkin kami sudah mengangap kamu bukan bagian dari ras kami.

Hey kamu yang disebutl gila. Kamu yang lain sedang termenung diatas jembatan, pakaianmu bahkan lebih kotor dari keset di rumah nyaman kami. susumu yang kiri menjuntai keluar memamerkan puting nya. sebenarnya siapa yang ingin kamu susui. Hidupmu bagai binatang, apa yang kamu makan untuk menghidupi ragamu. Kini kamu sudah menjadi binatang, bahkan kamu bersanding dengan tinjamu sendiri. Binatang apakah kamu sebenarnnya?.

Hey kamu yang disebut gila. Bahkan kami taksudi melihat mu, dan kami lebih suka berpura-pura tidak melihatmu. Rasa iba sudah kami habiskan untuk para novela. Yang pantas dikasihani hanyalah aktres idola kami, korban dari afriani dan berita-berita buruk lain dari sang maha TV. Air mata kami hanya untuk dongeng dari ustad profesional yang handal seperti kadal, bukan untuk kamu, bukan, bukan kamu yang disebutl gila. Dan kegembiraan kami hanyalah untuk menari-nari diatas kekuasaan.

Hey kamu yang disebut gila. Kini aku mengerti sebenarnya kegilaanmu adalah sebuah kewarasan yang kami takuti. Kami terlalu naif untuk mengakui kebinatangan kami dan akhirnya membinatang kanmu, Kami tengelam dalam kepurapuraan dan mengahapuskan pengakuanmu sebagai manusia. Hak apa sebenar nya yang membuat kami bisa tidak memanusiakanmu, Bahakan nyawamu kalah pamor dari lembaran kertas bernama uang.
Hey kamu yang disebut gila. entah tai apa sebenarnya yang menempel diotak kami. Sudah lama mata kami menjadi buta, bahkan sejak kami dibesarkan. hidung kami seakan taksudi dekat dengan mu, Ataupun telinga kami yang tak mau mendengar suara perutmu.

Hey kamu yang disebut gila. Kini aku mengerti bahwa kamilah yang tergila, Tapi sebenarnya kami menggilakanmu karena kamulah yang terasing, karena yang terasing itu adalah yang harus kalah. Dan sebenarnyan kamilah yang kotor, Bau busuk kami bahkan sesungguhnya lebih busuk dari binatang kotor manapun, bahwa sebenarnya kebusukan kami lah yang tak tertandingi.

*

Hey kamu yang dianggap gila. Mungkin kami terlalu iri denganmu karena kehidupanmu sudah suci dari kebusukan ini., karena kehidupanmu lah sebenarnya kewarasan itu.

*Sebagian text dihilangkan

Monolog Akhir juni

give me more, more, and more time. jangan bermain janji. bahkan untuk sekedar menyelesaikan orang asing-albert camus belum mampu. kamu tau apa yang paling ditakuti? aku yakin kita sepaham, yang harus diwaspadai adalah diri kita sendiri. Ah sudah, kita bicarakan lagi lain waktu, lagi pula mari bercengkrama tidak dipost untuk meracau polemik sosial, berbagai pembenaran dan akhirnya dibutakan kebenaran yang absurd..

******

Sungguh, aku ingin berada di pelukmu sejenak, jadikan aku senja  disudut matamu yang teduh – matamu menangkap bayangku- aku rindu. aku semakin muak pada sampah-samapah delusi yang  setiap harinya makin menjadi –  getar suaramu masih ada pada udara  terbuka – kamu tau aku rindu. kesunyian tidak  pernah berdusta – aku menatap nanar matamu – aku tahu kamu rindu.

Pada dingin malam yang bisa dirasakan siapapun, pada bulan cekung yang menggantung, aku tau kamu tidak disampingku. Namun kesunyian menyadarkan suatu hal, ia adalah ketiadaan yang menyakitkan.

Rinai

IMG01851-20120912-1727

Rinai hujan ..

Pada igauan demam semalam ada senandung alunan suaramu

Memecah hening pada pening yang semakin ngilu

Pada rinai hujan tak henti bayangmu mengukir rindu….

Ini sudah terlampau hening dan sepi, sudah hampir bulan ke dua semenjak kepergianmu dari kota ini.

Bagaimana tidak ? Bisakah kau bayangkan nyenyatnya kebisuan akan setiap jengkal hal yang dilewati tanpamu…

Tidak biasanya aku menyeduh dan menyecap kopi segetir ini, kamu tahu? Aku masih ada disini dan selalu ada untuk berbagi pahit dan asamnya kopi bersamamu.. Aku masih ada untuk sekedar berbagi harapan dan kekosongan bersamamu..

Kamu tau ? Rindu benar adanya,, pada keluguanmu, pada naifmu dan pada jarak.

Sampaikan saja salamku untuknya.. untuk lelaki dengan senja yang sempurna di matanya.

Setelah Hujan Reda

Sekilas nampak seklebat bayangnya pada grimis hujan malam ini. .

Akhir tahun akan segera tiba, Yogyakarta tak pernah dilewatkan hujan begitu pula malam ini. Senja selalu direnggut mendung, aku masih menatap luar melalaui jendela yang aku biarkan terbuka. Aku tau betul bagaimana menikmati hujan yang setengah reda. Ada rasa ngilu yang kadang datang begitu saja. Rindu tidak pernah puas, ia meranggas di seluruh pikiran, ahh Lelaki itu..

Rasa asam sisa kopi bercampur nikotin masih membekas di lidah, tidak.. kali ini tidak ada nikotin, hanya cafein saja. Tentu saja, siapa yang mau bercumbu dengan lelaki beraroma asap rokok, sama sekali tidak seksi malah berfantasi membaui tukang becak yang ditemui tiap pagi. Hahahaa… Lelaki itu membuat pikiranku berlari hingga keluar alur cerita saja. Malam itu adalah kesekian kalinya aku membelai rambut hitamnya yang lebat,. Tidak ada definisi yang tepat menggambarkan bagaimana kasih bekerja, yaa.. bisa saja kasih sayang, cinta kasih , atau apapun sebutannya. Perasaan egois yang menuntut untuk dibalas. Jangan naif, jika ada yang bersih keras mengatakan “Aku mencintaimu meskipun kamu mencintai orang lain” aku berjanji akan muntah dihadapan orang itu. Memang sederhana.. tapi percayalah.. akan tetap butuh logika..

Biarkanla setelah hujan reda aku sedikit meracau…karena..

Bayangmu muncul pada sisa hujan malam ini yang tak kunjung reda. Banyangmu hadi r pada cecap terakhir kopi yang aku nikmati. . Kamu tau? Merindu tak bisa sesederhana menghabiskan batang-batang rokok yang menyiskan flek di paru, Ia selalu menuntut untuk bertemu pada titik yang disebut kegetiran..

Percayalah…

Yogyakarta, 24 Nov 2014

Blog at WordPress.com.

Up ↑